Rumput Laut Sejahterahkan Petani Tambak Maros

Rumput Laut Sejahterahkan Petani Tambak Maros

Maros – Petani rumput laut di Kabupaten Maros menuai hasil. Bibit rumput laut yang dibagikan Pemkab Maros setahun lalu, kini menjadi komoditas unggulan setelah harga rumput laut kering mencapai Rp 5.000 per kg. Sekali panen Petani rumput laut Maros bisa mengantongi 5-10 juta per hektar. Jumlah tersebut bisa lebih besar jika petani mempunyai tambak yang lebih luas.

Bupati Maros HM Hatta Rahman Memegang Rumput Laut yang Dipanen. (Foto: Humas Pemkab Maros).

Seorang petani rumput laut di Dusun Padaria, Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Kasri (43), mengaku bisa mengantongi Rp 15-20 juta per sekali panen dari tiga hektar tambak rumput lautnya dengan masa panen hanya 45 hari.

Kasri mengaku bisa meraup untung lebih banyak karena selain menanam rumput laut, di tambaknya juga dibudidayakan ikan bandeng yang panen dalam tiga bulan sekali.

“Sekali panen bandeng, saya bisa meraup Rp 3,5 juta per hektar atau sekitar 2000 ekor,” ujarnya, Selasa (3/9/2013).

Kasri tidak sendiri, di wilayah pesisir Maros terdapat ratusan petani yang mengelola sekitar 150 hektare tambak berisi rumput laut jenis gracilaria sp yang merupakan bahan utama pembuatan agar-agar. Gracilaria sp termasuk pada kelas alga merah (Rhodophyta).

Bupati Maros HM Hatta Rahman yang menyaksikan panen rumput laut ini, berjanji akan menambah bibit rumput laut untuk petani tambak yang bermukim di daerah pesisir di Kecamatan Bontoa, Lau, Maros Baru, dan Marusu.

“Saat ini kita mempunyai 10 ribu hektare tambak, namun yang potensial untuk pengembangan rumput lain sekitar 4 ribu hektare. Saat  ini yang ditanami rumput laut baru 150 hektare,” ujarnya.

Dalam waktu dekat Pemkab Maros akan membagikan bibit rumput laut untuk tambak seluas 1.000 hektare.

“Jika rata-rata petani tambak mengelola satu hektare saja dengan keuntungan Rp 5 juta, maka uang yang  dihasilkan dari rumput laut ini mencapai Rp 5 miliar dalam 45 hari saja,” kata insinyur Teknik Sipil dari Universitas Hasanuddin Makassar ini.

Pada 2010 lalu, sangat susah meyakinkan masyarakat untuk mengelola rumput laut. Mereka enggan menyatukan rumput laut dengan ikan bandeng ditambak karena khawatir pertumbuhan ikan mereka terganggu. Namun Pemkab Maros tetap membagikan bibit rumput laut pada petani dengan luas lahan sekitar 120 hektare.

Pemkab Maros juga membagikan perahu dan pupuk yang merupakan bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Minat petani mengembangkan rumput laut rendah karena harga rumput laut kering pada saat itu hanya Rp 1.800 per kg.

“Karena pemasarannya susah, akhirnya petani malas mengelola rumput laut. Selain itu, harga jualnya juga cukup rendah,” kata Hatta. Namun kini semua petani tambak di Maros berlomba-lomba mengembangkan rumput laut karena harga rumput laut kering mencapai Rp 5.000 per  kg.

Sementara Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Maros H Zainal Dalle mengatakan, saat ini sudah banyak pengusaha yang antre untuk membeli rumput laut kering petani tambak.

“Bahkan ada pengumpul yang sudah membayar uang dimuka padahal rumput lautnya belum dipanen,” ujar anggota DPRD Maros ini.

Kini petani rumput laut di Kecamatan Bontoa sudah sejahtera. Mereka mulai merenovasi rumah panggung kayu mereka menjadi rumah batu. Anak-anak berseragam sekolah juga sudah banyak yang menggunakan sepeda motor. Padahal sebelumnya mereka hanya menggunakan kendaraan umum untuk sekolah. (*)

Tags: Lain-lain


Leave a Reply

Kabar Terbaru